Aiptu Santoso Dalam Kegiatan Sosialisasi FKUB di Kecamatan Pule

74 views

Polres Trenggalek –  Upaya pembinaan kerukunan umat beragama yang terus menerus ditingkatkan oleh seluruh tokoh agama bersama organisasi keagamaan lainnya, diharapkan FKUB dapat membantu stakeholder kecamatan Pule dalam merumuskan kebijakan yang diambil pemerintah daerah dalam hal yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama. Seperti dalam acara kemarin yang bertajuk sosialisasi Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB)  yang diselenggarakan di pendopo kecamatan Pule, Jum’at (29/12).

 

Dari Polsek Pule Polres Trenggalek yang hadir dalam kegiatan Kanit Binmas Aiptu Santoso, yang mewakili dalam kegiatan Kapolsek Pule Iptu Suraji, SH, MH yang bersamaan adanya kegiatan pelepasan purna bhakti anggota yang memasuki masa pensiun di Polres Trenggalek. Kegiatan yang dihadiri oleh stakeholder dari Muspika Pule termasuk dari Koramil 0806/10 Pule Kapten Karim yang terlihat duduk di depan undangan bergabung dengan unsur Muspika, dalam kegiatan tersebut ditekankanya persatuan dalam forum beragama melelui sinergitas membangun NKRI.

 

Hal lain kenapa FKUB strategis untuk masa
depan kerukunan umat beragama adalah
keanggotaannya yang lintas agama. Kerukunan
umat beragama di antaranya mensyaratkan rasa
hormat satu sama lain. Beda keyakinan boleh,
beda ajaran keagamaan boleh, tetapi masing￾masing harus saling hormat dan menghargaisatu sama lain sebagai warga negara.

 

Keanggotaan lintas agama menumbuhkan
toleransi dari dalam. Sesama anggota FKUB harustoleran demi kerukunan. Mereka dituntut untukmemberi contoh bahwa mereka telah terlebihdahulu mempraktikkan kerukunan umat
beragama. Mereka bekerjasama dalam banyak
kegiatan meski secara keyakinan teologi mereka
berlainan. Bukan tidak mungkin, cara berpikir
toleran yang mereka praktikkan memengaruhi
umatnya masing-masing.

 

” Mereferensi kejadian ketegangan antar pemeluk agama diIndonesia bisa dilacak hingga masa akhirpenjajahan Belanda. Salah satu upaya mencegahpemberontakan muncul, pemerintah HindiaBelanda sempat menggunakan Kristenisasisebagai kebijakan. Pada masa itu, organisasiMuhammadiyah (1912) berdiri, di antaranya,sebagai upaya untuk membendung Kristenisasitersebut. Ketegangan Muslim-Kristen di tingkatmasyarakat mulai menguat hingga masa awalkemerdekaan. Pada tahun 60-an, ketegangantersebut mengambil bentuk perusakan gereja.Insiden perusakan gereja terjadi di beberapawilayah, termasuk di wilayah pinggirian Jakarta.Ketegangan inilah yang kemudian mendorongpemerintah kala itu menerbitkan peraturanmengenai pendirian rumah ibadah pada tahun1969 yang berkembang berdirinya FKUB sampai saat ini, ” Jelas kanit Binmas Polsek Pule Polres Trenggalek saat dikonfirmasi di tempat berbeda.

 

Posting Terkait